Kamis, 17 Mei 2012

Representasi Perempuan "KETIKA SAPI LEBIH BERHARGA DARIPADA SEORANG PEREMPUAN"

Berikut sebuah ringkasan kisah nyata dari seorang perempuan yang tinggal di desa kecil Tepi Barat, Palestina yang lolos dari pembunuhan atas nama kehormatan. Diambil dari sebuah buku terjemahan “BURNED ALIVE” yang ditulis oleh Souad (yang identitasnya masih dirahasiakan sampai bukunya ditebitkan) dan sudah ditulis dalam 29 bahasa di 28 negara. Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Pustaka Alvabet Anggota IKAPI.
Souad, seorang gadis yang tinggal di desa kecil, Tepi Barat, Palestina yang setiap hari mendapatkan siksaan dari ayah kandungnya sendiri. Dikurung, dipukuli, dijambak, diseret-seret, bahkan dicambuk, menjadi jatah harian Souad dari ayahnya. 

Kesalahan terbesar Souad adalah, berkenalan dengan seorang lelaki dan hamil sebelum menikah. Souad berusaha menutupinya dari keluarganya tapi tak berlangsung lama. Setelah keluarganya mengetahuinya, maka disusunlah sebuah rencana bagaimana mereka akan membunuh Souad. 

Saat itu usia kandungan Souad kira-kira tujuh bulan. Bentuk pembunuhan yang direncanakan adalah membakar Souad hidup-hidup. Biasanya hal ini dilakukan oleh saudara laki-laki, sementara orang tua sengaja bepergian agar tidak berada di rumah pada saat pembunuhan terjadi dan berpura-pura tidak tahu, namun sebenarnya hal tersebut telah direncanakan dengan rapi oleh 
keluarga. 

Souad akhirnya dibakar hidup-hidup oleh saudara iparnya sendiri. Beruntung Souad berhasil dilarikan ke rumah sakit oleh gadis-gadis desa setempat. Akan tetapi, rumah sakit pun tak mau memberikan pelayanan medis untuk Souad karena mereka tahu Souad telah hamil di luar nikah. 

Mereka membiarkan Souad kesakitan dengan kulit melepuh tanpa diobati sedikitpun. Hal yang tak terduga sama sekali, di tengah kesakitannya tergeletak tak berdaya tinggal menunggu kematiannya di rumah sakit, dia melahirkan bayinya dengan selamat tanpa bantuan medis sama sekali. 

Berhari-hari Souad tak mendapatkan pengobatan apapun, tapi dia tetap bertahan hidup, sampai akhirnya seorang relawan Eropa membawanya ke Prancis untuk mendapatkan pengobatan setelah melalui proses perizinan yang sangat panjang, baik dari pihak rumah sakit, keluarga Souad, dan tentara Israel yang ketika itu menjaga perbatasan Palestina. 

Di Prancis, Souad akhirnya mendapatkan pengobatan hingga sembuh, sampai akhirnya dia pulih, baik secara fisik maupun secara psikologis. Souad akhirnya mampu melanjutkan kehidupannya yang baru di Prancis, tempat yang berbeda jauh dengan tradisi desanya, terutama dalam hal representasi terhadap perempuan.
...
Di sebuah desa kecil yang terletak di Tepi Barat, Palestina, pada abad ke-19 kehidupan perempuan berada dalam posisi yang sangat memprihatinkan, tak lebih dari seorang budak. Bahkan di waktu itu, nilai seorang perempuan dianggap lebih rendah daripada seekor binatang. Sapi bisa memberikan susu dan anak sapi untuk kemudian dijual dan menghasilkan uang. Domba bisa menghasilkan wol untuk dijual kemudian mendatangkan uang. Sementara perempuan? Tak ada artinya.

Seorang gadis di desa kecil itu tidak boleh berpergian keluar rumah seorang diri tanpa ditemani ibu atau kakak perempuannya, tanpa domba, tanpa membawa seikat rumput kering atau sekantung buah ara. Seorang gadis juga harus berjalan dengan langkah cepat dan kepala menunduk, jangan sampai ada seorang lelaki yang sempat menangkap pandangan matanya. Seorang gadis juga tak diizinkan berbicara dengan lelaki asing manapun kecuali ayah dan saudara laki-lakinya. Kalau ada yang kedapatan melanggar aturan itu, maka dia akan dicap sebagai seorang “charmuta” atau pelacur. 

Di desa itu, seorang anak perempuan dikatakan sudah “dewasa” ketika sudah mendapatkan menstruasi pertamanya. Ketika seorang gadis sudah menginjak usia 14 tahun, maka dia akan menunggu untuk dinikahkan. Ketika hampir mencapai usia 20 tahun, belum juga ada laki-laki yang melamarnya, maka seluruh warga desa akan mengolok-oloknya dan itu akan menjadi aib bagi keluarganya. 

Karakter bengis seolah sudah melekat pada seluruh laki-laki di desa itu. Sang suami akan memperlakukan isterinya seperti budak. Menjambak, memukul, mencambuk, menendang, menyeret-nyeret perempuan, seolah menjadi hal yang biasa bagi laki-laki di desa itu, bahkan mereka juga tak akan segan sama sekali untuk membunuh perempuan, sekalipun itu isterinya. Panjang usia seorang perempuan seolah-olah berada di tangan para lelaki. Sekalipun seorang perempuan dibantai oleh suaminya, dia tak bisa pulang ke rumah orang tuanya karena itu hanya akan mendatangkan aib bagi orangtuanya. Oleh karena itu, dia harus bertahan di rumah suaminya meskipun mengharuskannya menjadi budak seumur hidup bagi suaminya sendiri. 

Anak laki-laki adalah emas. Kehadiran anak laki-laki dalam sebuah keluarga adalah hal yang paling ditunggu. Sebaliknya, kelahiran seorang anak perempuan dianggap akan menjadi kesialan. Maka tak jarang, bayi-bayi perempuan akan dibunuh ibunya saat kelahirannya. Mungkin menurut sang ibu, bayi perempuan itu lebih baik mati daripada harus disiksa dan dijadikan budak sepanjang hidupnya nanti, bahkan oleh ayah kandungnya sendiri.
...
Fenomena tersebut menggambarkan tentang representasi perempuan di Tepi Barat Palestina pada abad ke-19, dimana ada ketidakadilan gender sehingga perempuan gagal berekspresi di ruang publik dikarenakan satu kebudayaan patriarki yang sangat kuat dalam desa tersebut. Patriarki adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan sistem sosial di mana kaum laki-laki sebagai suatu kelompok mengendalikan kekuasaan atas kaum perempuan. 

Selain kekerasan pada perempuan yang seolah menjadi hal biasa, bentuk ketidakadilan pada perempuan di Tepi Barat, Palestina juga terjadi dalam bentuk subordinasi. Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya yang sudah mengakar, bahkan dikukuhkan oleh nilai agama dan budaya masyarakat. Laki-laki diizinkan untuk melakukan apapun sesuka hatinya, sementara perempuan diperlakukan sebagai budak. Bahkan, untuk mengenyam pendidikan pun, seorang perempuan tidak layak. 

Perempuan dimarjinalisasi dan didiskriminasi tanpa ada pihak yang berupaya merobohkan adat istiadat tersebut. Kaum perempuan di desa itu juga tak bisa vokal menyuarakan keberatannya atas sikap keras yang bahkan tak beradab dari laki-laki, kecuali mereka siap untuk disiksa atau bahkan dibunuh. 

Isu gender yang menyangkut kekerasan, subordinasi, dan marjinalisasi yang berkeliaran di tengah perbincangan masyarakat, ternyata benar adanya terjadi dengan sangat mengerikan kepada para perempuan di Tepi Barat, Palestina pada abad ke-19. Bahkan ketika itu, pembunuhan atas nama kehormatan menjadi hal yang sangat wajar. Salah satunya seperti yang terjadi pada Souad dalam kisah “Burned Alive” tersebut.

Kamis, 29 Maret 2012

UNIK!! KERAMAS PAKAI KARUNG GONI

Seorang pemuda tampak duduk manis di sebuah stand bazaar miliknya tapi tetap sigap melayani setiap pengunjung yang sekedar ingin mencuci mata ataupun yang ingin membagi isi koceknya kepada pemuda itu. Eno, seorang pemuda berdarah Jawa yang usianya baru 27 tahun dan sehari-harinya menghabiskan waktu untuk "keramas" dengan menggunakan karung goni bekas.

Hasil dari "keramas" yang dilakukan oleh Eno adalah sederet miniatur boneka unik yang mampu mempesona setiap orang yang menghampirinya. Mungkin pertanyaan yang kemudian muncul adalah “kira-kira sampo merek apa yang dipakai Eno untuk keramas sehingga menghasilkan miniatur boneka? Bagaimana mungkin? Lalu apa kabar dengan rambut di kepalanya? Bukankah yang biasa dikeramas adalah rambut?”

Unik. Itulah kemudian kata yang paling tepat untuk menggambarkan “keramas” yang satu ini. KERAMAS (Kerajinan Anak Medan Asli) memakai karung goni bekas, bentuk usaha kreatif yang ditekuni oleh Eno selama beberapa tahun belakangan. Tempat yang bisa dijangkau untuk “Keramas” ini adalah di Jalan Kesatria Gang Damai No.14, Kecamatan Medan Sunggal, Kelurahan Tanjung Rejo.

Eno bersama seorang temannya menggali ide kreatif mereka kemudian menuangkannya ke dalam sebuah karya seni yang sangat unik. Mereka memainkan jari-jari mereka merajut kembali goni-goni bekas yang sudah dikumpulkan, untuk kemudian dibedah menjadi berbagai jenis miniatur berbentuk boneka, pesawat, lukisan, dan semacamnya. Alat dan bahan yang digunakan sangat sederhana, hanya berupa karung goni bekas dan kawat sebagai bahan utama. Sesekali ragam biji-bijian kering yang telah dilapisi pernis sehingga memberi kesan mengkilau ditempelkan pada miniatur boneka goni untuk menambah kesan cantiknya.
Durasi waktu yang mereka perlukan untuk menciptakan satu miniatur boneka karung goni dengan karakter biasa yang tak terlalu ribet hanya sekitar 10-15 menit.

Eno biasanya memperoleh karung goni bekas dengan cara mengumpulkannya dari pedagang-pedagang pasar, terkadang dia peroleh secara gratis tapi terkadang juga Eno harus merogoh kantongnya dan mengeluarkan beberapa lembar rupiah untuk menebus karung-karung goni yang akan ia sulap menjadi karya unik, hasil tangan yang akan menjadi bagian dari “keramas” yang siap untuk dipasarkan.



Harga yang ditawarkan Eno untuk miniatur boneka karung goninya rata-rata adalah Rp 25.000 per-unit. Sementara untuk pembelian dalam jumlah banyak yang tujuannya adalah untuk dijual kembali, Eno biasanya memberikan korting harga menjadi Rp 15.000-Rp 18.000 per-unit. Saat ini hasil “Keramas” sudah dipasarkan ke berbagai wilayah di Sumatera Utara, khususnya daerah tujuan wisata, seperti Berastagi, Parapat, Tomok, Bukit Lawang. Tidak hanya sampai di situ, hasil kerajinan tangan ini juga sudah merantau sampai ke Aceh, Jakarta, Yogyakarta, bahkan sampai ke negeri tetangga, Malaysia. Menurut Eno, pelancong asal Malaysia pernah memborong kerajinan tangannya sampai 350 unit miniatur untuk kemudian dijual kembali.



Keuntungan yang bisa diperoleh Eno dari kegiatan yang ditekuninya ini, yaitu mengumpulkan karung goni bekas kemudian memainkan kreatifitasnya membentuk ragam miniatur, akhirnya bisa menambah pundi-pundi uang bagi Eno termasuk juga temannya yang turut membantunya. Nominal yang biasa diperoleh Eno yakni berkisar 2,5-3 juta perbulan.

Setiap orang dianugerahkan dengan bentuk kreativitas yang berbeda dan beragam. Eno adalah salah satu orang yang kemudian berusaha memaksimalkan kreativitas yang dimilikinya dan berhasil membuatnya menjadi sesuatu yang bernilai seni tinggi dan lagi menghasilkan rupiah. Tak hanya sampai di pembuatan miniatur boneka, lukisan, pesawat mainan, yang kesemuanya dari karung goni, Eno juga memberdayakan karung goni untuk membalut sepeda ontel.
“Saya kemaren nemu kerangka sepedanya itu di daerah Sunggal tempat tukang botot, terus dirangkai lagi dan dibalut pakai goni itu. Untuk merakitnya lagi kemaren saya perlu modal sekitar 500-600ribu.”

Di salah satu sisi stand bazaarnya, berdiri gagah sepeda ontel jantan yang sudah dibalut dengan karung goni oleh Eno, sehingga kian menambah nilainya. Menurut Eno, sepeda itu merupakan sepeda dengan tahun 1940, yang akan dia jual dengan harga 2,5 juta rupiah.

Selasa, 13 Maret 2012

HAPPY BIRTHDAY FOR MY TIKUT



Peluk dan cium untuk Tikut:: Tika Anggreni Purba :*
Semoga panjang usia dan kesehatan ditambahkan kepadamu.
Segala yang terbaik mendekat kepadamu di usia yang ke-21 ini.
Amin.



Tika Anggreni Purba.
11 Maret 2012, 21 tahun.
Sorry, may be it's too late to say happy birthday :(
"HAPPY BIRTHDAY, TIKA"
Salah satu sahabat terbaik yang dipunya oleh "Glanz"
Kami menyayangimu, bebski.

Teringat ucapan Tika siang tadi, "Aku nggak tau ini lagi senang atau sedih"
Bahagia karna bertambah usia, itu pasti. Tapi mungkin Tika juga lagi sedih karna mamak lagi sakit. Tapi pasti cepat sembuh :)

Tadi nggak ada pedah-pedah, maaf yaa, Tikut..
Maafkan kami para domba yang hilang ini :(
Kami pasti menyedihkan hatimu..
(-__-)

Kalau diminta kasi pedah-pedah, mau bilang apa yaa??
Harusnya aku, icek, ina, helen, inri, fani yang dikasi pedah-pedah dari Tika.
Tapi satu hal yang pasti, aku bangga punya kawan kek Tika.
Tika bisa selalu jadi panutan, banyak hal baik yang ditunjukkan.
Selalu bisa jadi penengah kalau lagi ada temennya yang mau bunuh-bunuhan.
Selalu bisa kasi semangat sama temennya yang udah galau mau gantung diri.
Selalu senyum walaupun lagi banyak pergumulan.
Selalu bisa nahan emosinya, walaupun banyak hal yang buat kesal.
Selalu bisa banyak hal.

Aku sayang Tika. Glanz sayang Tika. Tika sayang Glanz. Tika sayang aku.
Mari kita berpelukaaaaaaaaaaaannn...


Tika yang kukenal adalah orang yang tau betul gimana menempatkan dirinya.
Dibalik Tika yang tampak casing sekarang ini, Tika bisa juga kok jadi makhluk aneh.
Apakah itu??
Lady galau penderita parasosial akut, dimana dia menganggap tv adalah teman di kala sepi.
Hhhaahaa:D
Kalau penyakitnya yang satu ini udah kambuh, waaaaahhhh..luar biasa.
Nengok tv yang di-mute aja bisa ketawa guling-guling sambil ngences-ngences trus jambak-jambak rambut sendiri, jedotin kepala ke lantai (*lebay)
Remote tv, Tika penguasanya. Lalap ganti channel. ZzzzzZ.


Tapi, kembali lagi..
Apapun itu, Tika punya banyak hal baik yang orang lain nggak punya.
YOU ARE AMAZING, TIKA.
Teruslah jadi Tika yang baik dan lebih baik lagi yaa..
Jadilah yang terbaik suatu hari nanti.
Sukses adalah milikmu.

Sekali lagi,
SELAMAT ULANG TAHUN, TIKA
TUHAN YESUS MEMBERKATI

^^


Fani::
http://www.facebook.com/notes/tifany-natasha-panggabean/to-my-dearest-best-friend-tika-anggreni-purba-/10150586925680940

Inri:: http://www.facebook.com/notes/inri-sembiring/happy-bday-t-i-k-a-tiksemar/10150587722246949

Vina:: http://www.facebook.com/notes/ina-ginting/selamat-hari-spesial-untukmu-tika-anggreni-purba-tambak-3/10150595032968730

Jumat, 06 Januari 2012

PENETAPAN WAKTU PELAKSANAAN PESTA DANAU TOBA

Pesta danau Toba telah menjadi kegiatan tahunan di Sumatera Utara dalam kalender event nasional sejak tahun 1979 yang ditujukan guna mempromosikan pariwisata Danau Toba ke luar negeri. Pada pelaksanaan Pesta Danau Toba yang ke-31 pada tahun 2010 silam, Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Budaya dan Pariwisata, Dr. Sapta Nirwandar mengatakan, tampilan pariwisata Danau Toba perlu mendapat perhatian bersama. Oleh karena itu, Kementerian Budaya dan Pariwisata akan menjadikan kegiatan Pesta Danau Toba sebagai ikon pesta tahunan yang dilakukan dengan jadwal dan waktu yang tetap.

Pada tahun 2011, Pesta Danau Toba dilaksanakan pada tanggal 27 – 30 Desember 2011. Artinya, pernyataan Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Budaya dan Pariwisata tersebut sama sekali tidak terealisasi pada pelaksanaan Pesta Danau Toba yang baru berlangsung pada penghujung tahun tersebut.

Untuk penyelenggaraan sebuah kalender tahunan yang cukup besar seperti Pesta Danau Toba, seharusnya panitia penyelenggara berkonsolidasi dengan pemerintah daerah sampai ke tingkat provinsi untuk lebih jeli dalam menentukan jadwal dan waktu pelaksanaan yang mampu mendatangkan profit. Apabila Pesta Danau Toba dilaksanakan pada bulan yang sama setiap tahunnya, maka event tersebut akan menjadi ikon yang lebih mudah melekat dalam agenda perjalanan para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Dengan adanya perbedaan bulan yang dipilih sebagai waktu pelaksanaan Pesta Danau Toba, maka biaya promosi yang diperlukan untuk menarik kedatangan wisatawan juga akan lebih besar. Namun, apabila sudah ditetapkan satu bulan yang sama setiap tahunnya sebagai waktu pelaksanaan Pesta Danau Toba, maka tanpa promosi besar-besaran sekali pun, para wisatawan sudah ingat dan tahu kalau pada bulan tersebut akan ada Pesta Danau Toba sebagai pesta tahunan yang diadakan di Sumatera Utara. Dengan meminimalkan biaya promosi, maka biaya tersebut dapat dialokasikan kepada acara yang akan dilangsungkan sehingga dapat memukau wisatawan dan tak enggan untuk berkunjung lagi pada tahun berikutnya, tentu saja pada bulan yang sama.

Sabtu, 26 November 2011

MENSTRUASI


Mari belajar Biologi kelas XII


MENSTRUASI berasal dari bahasa Latin, yaitu Mensis, yang berarti 'bulan'.
Disebut menstruasi karena secara rata-rata menstruasi datang sekali sebulan.
Dan “menstruasi” bulanan ini adalah siklus peristiwa di dalam tubuh yang dikendalikan oleh hormon-hormon.
Haid atau menstruasi atau datang bulan adalah suatu proses fisologis yang dialami oleh setiap wanita normal.


Siklus menstruasi adalah waktu dihitung sejak Hari Pertama Menstruasi (HPM) sampai datang hari pertama menstruasi periode berikutnya. Panjangnya beda-beda antar orang, antara 20 - 35 hari.
Normalnya adalah 28 hari.

Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi; pada umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal.


Pengeluaran darah menstruasi terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak tentu.
Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar, bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan.

Rata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml.



Salah satu masalah yang paling sering menjadi keluhan oleh kebanyakan wanita adalah nyeri saat menstruasi (dismenorrhea).
Sama seperti luka pendarahan di kulit yang kita alami pasti kita akan merasakan sakit, apalagi pendarahan tersebut terjadi di dalam rahim, tentunya akan menimbulkan rasa nyeri.

Nyeri saat menstruasi merupakan hal yang lumrah dialami oleh setiap wanita, akan tetapi yang membedakannya adalah apabila hal tersebut mengganggu aktivitas dan kehidupan sehari-harinya.
Nyeri ini dapat bersifat hilang timbul atau menetap. Biasanya nyeri terasa 24 jam sebelum menstruasi dan berakhir 24-36 jam setelah menstruasi berhenti.


Nyeri dirasakan pada perut bagian bawah yang kemudian dapat menyebar ke punggung atau bagian dalam paha.
Gejala-gejala lain yang dapat menyertai antara lain mual, muntah, sakit kepala, cemas, gelisah, diare, pingsan, dan perut kembung.
Nyeri haid ini normal, namun dapat berlebihan bila dipengaruhi oleh faktor psikis dan fisik, seperti stres, shock, penyempitan pembuluh darah, penyakit yang menahun, kurang darah, dan kondisi tubuh yang menurun.


Mungkin banyak di antara para wanita yang merasa ingin dimengerti kondisinya, yang sepertinya amat sensitif, ketika mereka memasuki masa pra-menstruasi.
Mereka merasa bahwa PMS adalah penyakit hukum alam yang [pasti] menimpa kaum wanita.
PMS (pra-menstruation syndrome) mereka gambarkan dengan mudah tersinggung, mudah untuk menangis, dan malas untuk berkegiatan.

Para wanita merasa lebih mudah marah, lebih mudah terganggu, dan lebih depresif – sensitif pada fase pra-menstruasi dan fase menstruasi



ketika datang bulan sebaiknya perlu dihindari :

- OLAHRAGA BERAT

Banyaknya pembuluh darah arteri yang terbuka pada saat haid dapat menyebabkan perlukaan. Seorang perempuan yang sedang menstruasi dan melakukan olahraga dikhawatirkan akan mengalami pendarahan berat.
Memang tidak semua olahraga akan menyebabkan hal tersebut, tapi sebaiknya sesuaikan olahraga yang dipilih dengan kondisi tubuh. Perempuan dengan kondisi tertentu bisa jadi akan mengalami perdarahan berat ketika memaksakan diri bersenam aerobik saat haid.

Secara umum, perempuan yang sedang menjalani siklus bulanannya akan merasa lebih lemas, dan beberapa bahkan menderita nyeri perut, mual, pinggang pegal-pegal, pening, bahkan ada yang sampai pingsan.
Oleh karena itu, disarankan untuk mengurangi porsi olahraga yang cukup berat atau sebaiknya pilih saja olahraga ringan seperti jalan santai.


-TERBELENGGU MITOS

Larangan memotong rambut, menggunting kuku, dan keramas selama haid tidak memiliki penjelasan secara medis. Intinya, bila ada mitos-mitos yang dirasa tidak masuk akal, sebaiknya jangan dituruti.


- BERENANG

Kontak dengan air yang dimaksud di sini di antaranya berenang, menyelam, dan sejenisnya.
Banyak beredar anggapan yang salah, yaitu perempuan yang sedang menstruasi darahnya akan berhenti ketika berada dalam air.
Pendapat ini tidak sepenuhnya tepat.

Selain itu tidak ada yang dapat memastikan apakah air yang digunakan untuk berendam itu steril. Bisa jadi air kolam renang atau air laut mengandung banyak kuman yang dapat menyebabkan infeksi.
Apalagi bila berendam dalam waktu lama.

Minggu, 06 November 2011

INISIASI SEBAGAI TRADISI TAHUNAN IMAJINASI


Di hari Jumat siang itu, para mahasiswa baru Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU tahun 2011, ikut meramaikan lingkungan FISIP dengan sandal berwarna daun di kaki mereka. Warna itu kian menambah segar suasana FISIP USU ditambah lagi dengan wajah-wajah segar para mahasiswa baru yang berceloteh ria memperdengarkan tawanya.

Tepat pada hari Jumat, 21-23 Oktober 2011 kemarin, Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU menyelenggarakan kegiatan tahunan Ikatan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (IMAJINASI), sebagai acara untuk menyambut mahasiswa baru, yakni inisiasi, inagurasi yang diperuntukkan untuk mahasiswa baru komunikasi yang kali ini mengambil lokasi di Tongging. Berbeda dengan inisiasi sebelumnya, selama dua tahun berturut-turut diadakan di Parapat. Susunan kepanitiaan pada inisiasi 2011 ini dipegang oleh dua stambuk, dimana mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi stambuk 2009 sebagai panitia inti dan stambuk 2010 menjadi panitia bayangan. Kedua stambuk ini secara kompak dalam mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan inisiasi selama kurang lebih empat bulan.

Tema kegiatan inisiasi tahun ini adalah “communicable”. Adapun filosofis dibalik tema ini adalah mengibaratkan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU bak kabel yang panjang dan tak terputus sama sekali. Kabel panjang itulah yang kemudian menjadi sarana penghubung antar-stambuk agar bisa saling mengenal dan saling kompak dalam setiap kegiatan akademik maupun non akademik kampus.

Suatu kegiatan tidaklah penting untuk dilakukan kalau tak bisa mendatangkan manfaat yang baik pula. Adapun beberapa manfaat yang bisa didapat dari kegiatan ini, diantaranya adalah terciptanya kader-kader mahasiswa baru Ilmu Komunikasi yang mampu beraktualisasi diri dalam mewarnai kehidupan kampus, terciptanya kader-kader mahasiswa baru Ilmu Komunikasi yang sanggup menjalankan peran sebagai agent of change, agent of reform, dan agent of social control, dan yang tak kalah penting dan menarik adalah kegiatan yang akan disebutkan dalam kalimat terakhir ini, salah satu bentuk kegiatan baru dalam inisiasi yang belum pernah ada pada tahun-tahun sebelumnya, yakni melestarikan alam Indonesia melalui penanaman seribu pohon.

Sesuai dengan susunan kegiatan acara yang sudah dijadwalkan oleh panitia, pada pukul 15.00, rombongan peserta dan panitia berangkat menuju Tongging. Selama tiga hari dua malam, para mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU akan mendapatkan tiga hari yang sangat mengesankan di Tongging yang sejuk dan berpanorama indah, tepatnya bertempat di Tongging Beach Hotel, Jalan Souk-Souk Tongging.

Selama tiga hari di Tongging, ada banyak sekali kegiatan yang dilakukan, mulai dari opening ceremony, re-checking peserta, pembagian kamar dan pengarahan dari panitia, night adventure, diklat jurnalistik dan humas, nonton film, hunting foto, pameran foto, acara dari Steering Committee (SC), penampilan kelompok dan malam api unggun, games dan olahraga, diskusi dan kegiatan rohani, kegiatan Save Our Nature (penanaman seribu pohon), pelantikan anggota muda Imajinasi angkatan 2011, sampai akhirnya tiba pada closing ceremony dan kembali re-checking peserta.

Ketika ingin memasuki suatu organisasi yang baik, maka seseorang harus memasukinya dengan cara yang baik pula. Panitia inisiasi tahun ini, yaitu mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2009 selaku panitia inti dan angkatan 2010 selaku panitia bayangan, bersama-sama dengan para Steering Commitee (SC), sepakat untuk membuat suatu pelantikan dengan nuansa yang baru yang belum ada pada tahun-tahun sebelumnya, yakni pelantikan anggota muda Imajinasi angkatan 2011 menjadi anggota biasa Imajinasi melalui upacara singkat yang dibuka dengan kata sambutan dari ketua inisiasi selaku pembina upacara, penciuman Bendera Merah-Putih oleh peserta, sambil diiringi dengan lagu “Syukur” oleh barisan panitia, dan ditutup dengan penyematan nama sebagai simbolik bahwa para peserta inisiasi sudah sah dinyatakan sebagai anggota muda Imajinasi angkatan 2011.

Suatu kegiatan acara dikatakan sukses, tentu saja apabila ada yang mengapresiasinya. Seusai pelantikan anggota muda Imajinasi angkatan 2011 menjadi anggota biasa Imajinasi, para panitia seolah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga sebagai upah dari hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan demi mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan inisiasi ini. Bagaimana tidak? Para peserta berhamburan mendatangi panitia, sebagian menjabat tangan panitia, sebagian lagi merangkul panitia, sambil berkata dengan tersenyum,
“Makasi ya, kak, untuk inisiasinya. Kami tau perjuangan kalian besar kali untuk buat inisiasi yang terbaik untuk kami adek-adek kalian, kak.”

Sabtu, 10 September 2011

20 TAHUNKU


09 September 1991-09 September 2011

Sudah sekian banyak yang ku lalui sampai akhirnya aku memasuki usiaku yang ke 20 tahun saat ini.

Sungguh baik Engkau, ya Tuhan karena aku punya banyak sekali orang-orang yang mengasihiku dengan tulus. Aku punya kehidupan yang layak sampai saat ini. Terima kasih, Tuhan untuk orang tua yang hebat yang Engkau anugerahkan untuk membimbingku. Terima kasih untuk dua orang adik yang selalu di sampingku. Terima kasih untuk sahabat-sahabat(aneh:P)baik yang ku punya. Terima kasih untuk lingkungan yang Engkau sediakan bagiku untuk tinggal dan berkawan. Terima kasih untuk rezeki yang selalu Engkau limpahkan bagiku dengan cara yang tak ku duga sama sekali. Terimakasih, Tuhan untuk setiap orang-orang baik yang Engkau kenalkan kepadaku dengan cara-Mu. Terima kasih untuk segala yang telah ku lalui sepanjang usiaku, Bapa.


Baiklah.
Aku bukan orang yang cukup pintar dalam segala hal. Banyak sekali yang aku sesungguhnya aku tak mampu lakukan sendiri tanpa disokong oleh orang-orang hebat di belakangku.
Ku rasa keahlianku hanya merangkai kata-kata menjadi sebuah tulisan, seperti yang sedang ku lakukan saat ini.
Dan barangkali, siapa pun bisa melakukan hal seperti ini, termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.



Seringkali aku merasa minder dengan apa yang ku punya.
Tahukah kamu?
Aku punya tahi lalat tepat di bagian tengah keningku. Karena hal itu, bukan sedikit orang yang sekedar berkata bahkan "mengataiku" orang india, bla, bla, bla..
Sejujurnya, dulu aku sempat malu. Aku marah, kenapa harus ada yang mengejekku karena tahi lalat kecil itu.
Tapi sekarang, aku bahkan merasa beruntung memilikinya. Setidaknya aku punya sesuatu yang orang lain dan kamu tak miliki sebagai tanda pengenal diri. Hahaha:D


Katanya, hidup itu sulit.
Satu hal yang paling sulit adalah ketika harus menjadi dewasa. Akan banyak sekali yang menjadi tanggung jawab yang dituntut dari diri kita.
Dan aku memang harus mangakui, diriku sebenarnya belum manjadi pribadi yang dewasa. Tapi bukan lantas bangga karena hal itu.
Maka itulah, selain aku berharap bisa bertambah tinggi (*semua mengataiku kocik) yaah, aku harap usia ke-20 ini bisa membawaku lebih dewasa.



Pernah aku merasa sendiri..
Ketika aku harus tinggal sendirian di kota perantauanku untuk melanjutkan tanggung jawabku, yakni kuliah, dan aku tak bersama orang tua dan adik-adikku.
Ketika teman-teman yang selalu bersamaku saat bangku sekolah, mulai sibuk dengan kuliahnya masing-masing.
Ketika teman-teman baru yang ku temui di lingkungan kuliah lebih memilih pulang ke rumahnya daripada mengobrol denganku di sore hari.
Pernah aku merasa sendiri..
Ketika hatiku baru saja terluka karena cinta yang harus usai.

Dan pernah aku merasa sendiri, merasa seolah Tuhan meninggalkanku karena tak menjawab satu pun doaku.

Tapi,
itu hanya bagian dari emosi yang ku rasa.
Aku tak pernah sendiri seutuhnya.
Selalu ada yang menemaniku.
Dan Tuhan selalu punya jawaban untuk doaku, hanya saja seringkali aku tak mengenali jawaban yang Dia berikan.



Di tengah banyak sekali kekurangan yang ku miliki, Tuhan punya jalan-Nya menurunkan hujan berkat yang tak terduga olehku.
Aku hanya orang yang biasa-biasa saja, tapi banyak hal yang luar biasa yang bisa ku cicipi bukan karena kehebatanku, tapi karena anugerah dari Tuhan.
Dan yang pasti, hujan berkat itu juga ada untukmu, untuk kita semua.


Selamat ulang tahun, Sevi..

Kamis, 25 Agustus 2011

Berbicara Sedikit Tentangku

Sudah lama tak memainkan kata-kata.
Maka baiklah, kita mulai saja.


---------

Nama lengkapku SEPFIANY EVALINA BR. GINTING, cukup panggil aku SEVI.

Tapi memang dasar kawan-kawan, ada-ada saja caranya memanggilku.
'Sev, Phi, Cepot, Pipiyot, Piyot, Sepot, Kocik, Kancil, Marmut, Seping, Kuping, Sese, daaannnn banyak lagii..'
Sevi Caroly adalah nama yang kupakai dalam profesiku sebagai announcer.

HehehEC^
tak apalah..
yang terpenting mereka bahagia,
aku bahagia melihat kawanku bahagia.
(Pepatah lama)
;)

dan,,
aku adalah anak sulung dari tiga bersaudara.
Punya dua orang adik, Yahya Fransiscus Ginting dan Lilis Mikanda br. Ginting, yang setiap kali aku bertemu dengan mereka, maka terjadilah perang dunia ke-3 yang mengerikan.
Tapi saat harus jauh, maka rasa rindu pun mulai gencar menyerang.
Kalau orang karo bilang,,
"Uga pe la tengteng"
(Kekmana pun nggak pas)


- TK. Ora Et Labora Kabanjahe
- SD. Sint Yoseph Kabanjahe
- SMP Negeri 1 Kabanjahe
- SMA Negeri 1 Kabanjahe.
Itulah deretan tempatku mencari ilmu, yang kini sukses mengantarku ke perguruan tinggi,
Dep. Ilmu Komunikasi, FISIP, USU.
Kampus abu-abu yang sekarang sedang membenahi pikiranku dengan deretan mata kuliahnya yang terkadang begitu mempesona tapi terkadang juga begitu memuakkan terdengar.


Aku punya cita-cita tentunya.
Tak ingin kubagi di sini, biar ku simpan sendiri dulu.


Aku cenderung suka warna-warna gelap.
Hitam, ungu, merah hati, abu-abu.
Tenang, tak menyakitkan mata.
Tapi bukan berarti akau tak suka dengan warna putih dan teman-temannya.

Dari sepuluh angka yang ada, ntah kenapa angka tujuh (7)-lah yang paling tak ku suka.
:D


Aku bisa menjadi pribadi yang sangat pendiam tapi juga bisa menjadi sangat ribut.
Aku bisa menjadi pribadi yang sangat royal tapi juga bisa menjadi sangat pelit.
Aku bisa menjadi pribadi yang sangat penurut tapi juga bisa menjadi sangat pemberontak.
Dan aku tak suka dikekang.


Berbicara soal makanan,,
Aku paling suka dengan makanan pedas, berlumur cabe.
Semakin dia pedas, semakin dia nikmat rasanya :D
Masalah apakan nanti sakit perut, urusan belakang.
Yang terpenting rasa.

Paling suka masakan mamakku, apa pun alasannya.
Walau lebih mahal, MASAKAN MAMAK nomor satu.
:)
Paling suka sayur daun ubi tumbuk, juga bayam.
Paling nggak suka kangkung.
Paling suka kentang goreng apalagi disambal.
Tapi paling nggak suka kalau kentang disayur.

Suka makan otak ayam.
Sangat suka mie (mie goreng, mie ayam, mie bakso) walaupun sudah DILARANG.
Sangat suka tahu.
Sangat suka merica (cukup aneh memang) :D
Sangat suka makan kerang rebus.

Paling suka jeruk.
Aku suka asam tak terlalu suka manis.
Sangat suka lengkeng :)
Paling suka sama jus kuini, bandrek.



Pelajaran yang paling ku suka sepanjang aku SMP-SMA adalah Matematika dan Bahasa Inggris.
Tapi sekarang?
Keduanya nyaris terlupakan olehku.
Bahkan menjadi bencana bagiku.
Dan inilah yang ingin ku kejar kembali.
:)
Aku mau belajar banyak lagi tentang keduanya ini.
Dan ini HARUS masuk dalam AGENDA WAJIBku.
Lebih mengenalnya lagi seperti dulu aku mau mengenalnya sangat dalam.

Yang paling ku benci adalah Fisika.
Salah satu alasan kenapa aku meninggalkan IPA.


Aku adalah seorang yang bisa tidur di mana saja..
:D



Aku paling suka anjing.
Dan nama yang paling ku suka untuk anjingku adalah PENKO.

Paling tak suka kucing.
Dan tak suka semut, terutama semut api.
Dan sangat jijik dengan binatang berlendir, seperti cacing, siput.
Paling takut sama ular.


Suka dengan film horor tapi sangat menghindari film horor yang hantunya pocong.



Aku adalah seseorang yang tak bisa lepas dari CERMIN.
Setengah nyawaku ada dalam cermin :D
Lebih baik tak bersisir seharian daripada tak berkaca sejam saja.



Aku paling suka bintang.
Terang.
Kelap-kelipnya.
Putih terang bertabur di atas hitam kelam, berhasil memberi nuansa cantik.

Aku mau seperti bintang.
Memberi sinar bagi tempatnya tinggal, langit malam yang hitam.
Aku mau menjadi sinar yang berarti bagi sekelilingku.
Lalu mereka berbahagia melihatku, seperti aku yang merasakan bahagia tiap kali bintang muncul.


Aku benci bila harus membenci orang lain.
Tapi aku menyimpan marah pada orang yang sudah berulangkali membuatku sakit hati.


Aku tak terlalu suka keramaian.
Ketika ada masalah hal yang paling kubutuhkan adalah,,
jika harus menangis, aku mau ada satu pundak tempat sandaranku.
Dia mengusap punggungku, kepalaku, tanpa dia perlu banyak bertanya.
Karena ketika itu, yang paling kubutuhkan hanyalah DIDENGARKAN bukan SEGUDANG NASEHAT.
Barulah ketika pikiranku tenang dan pulih, isilah aku dengan nasehatmu.

Ketika ada masalah, aku perlu waktu menyendiri.


Aku terkadang sangat ambisius.
tapi seringkali jatuh terpelanting dan kesulitan untuk bangkit.
Maka aku membutuhkan "HUJAN SEMANGAT" dari orang-orang di sekelilingku untuk memulihkanku.

Aku punya impian dan terkadang impian itu menggilakanku.
Aku punya impian hanya saja usahaku kian hari kian berkurang untuk mencapainya.
Aku punya impian untuk bangkit kembali.
Harus bisa menjadikannya bukan hanya mimpi kosong, bualan semata.
Yaa, suatu hari nanti.


Suatu hari nanti,
aku masih tetap SEPFIANY EVALINA br. GINTING.
Tapi HARUS-lah menjadi "Bintang Yang Memberi Sinar Kebahagiaan."


^_^


by Sevi Caroly on Friday, June 25, 2010 at 1:24pm
via facebook

Senin, 08 Agustus 2011

ALKISAH SEORANG PUTERI


Puisi-puisi dalam Angkatan Pujangga Baru punya kecenderungan untuk memainkan kata dengan bunyi dan iramanya tanpa peduli dengan kedalaman maknanya. Chairil Anwar sebagai salah satu sastrawan dalam Angkatan 45 kemudian menunjukkan hasil karyanya dengan bentuk-bentuk puisi yang bermain dalam kata dan bunyinya (sajak) tanpa harus kehilangan makna yang dalam dari puisinya.

Aku??
Aku menulis puisiku, tanpa aku memperhatikan keserasian bunyi, yang kupikirkan hanyalah seberapa dalam makna yang bisa kulukiskan dari rangkaian kata-kata sastraku. Apakah aku menyalahi aturan penulisan puisi?

Hampir dua tahun yang lalu...
Aku mulai menulis “Alkisah Seorang Puteri”. Aku begitu bersemangatnya, aku ingin menjadikannya satu karya yang bernilai. Puisi terpanjang.
Suatu waktu di bulan ke-12 di tahun 2009, aku seperti tertampar karena merasa akan kehilangan puisiku yang sudah ku ketik di laptop milikku sebanyak 2000-an kata. Laptopku bermasalah dan saat akan diperbaiki, dia mengatakan aku akan kehilangan seluruh data di dalamnya, termasuk puisiku. Apa?!

Aku menangis. Aku marah pada setiap orang yang tak bisa mengerti betapa sedihnya aku di waktu itu. Sepanjang hari, dalam waktu yang cukup lama, aku hanya menangis, menunggu laptopku pulih kembali dan terus berharap sambil berdoa, seluruh data yang ada di dalamnya terselamatkan, minimal puisiku “Alkisah Seorang Puteri (ASP)”
Aku bercerita betapa sedihnya aku ke beberapa orang. Baiklah, aku akan menyebutkan nama mereka satu per satu. Stella, Eka, Anez, Tifany, Tika, Firman, Linda, Natasia, Tabita, Emma, Tista, Iche, Inri, Vina. Aku ingat betapa aku menangis ketika aku mengetikkan kata-kata dan menekan tombol enter kepada Anez tentang bagaimana aku kehilangan puisiku. Aku ingat bagaimana aku menangis di dalam mobil saat berbicara dari handphone dengan Stella tentang puisiku dan laptopku yang rusak. Aku juga ingat bagaimana aku tak bisa menahan air mataku saat Kak Natasia, Kak Tabita, Kak Emma, dan Bang Dana berkunjung ke rumahku di waktu tahun baru 2010 dan menanyakan tentang ASP-ku. Aku ingat semua itu, aku ingat semua kesedihanku yang sangat dalam saat aku merasa akan kehilangan apa yang sudah aku ketikkan dalam laptopku. Dan aku berterima kasih untuk semua kata penyemangat yang aku dapatkan dari Tista, Tika, dan semuanya. Dan terutama, terimakasih, Tuhan, karena laptopku pulih setelah beberapa minggu menunggu, tanpa aku harus kehilangan data-data yang ada di dalamnya. Artinya, puisiku, Alkisah Seorang Puteri (ASP)-ku selamat. Aku tidak benar-benar kehilangannya.

Tentu saja aku sangat bahagia. Aku kemudian melanjutkan penulisannya. Apa yang ku tulis di dalamnya adalah barisan kata-kata yang ku rangkai sedemikian rupa untuk menggambarkan cinta, benci, sakit, suka, keluarga, sahabat, tentang sebuah perjalanan kehidupan yang ku kisahkan lewat diri seorang puteri.
Aku memainkan kata-kata. Aku mencoba ikut merasakan apa yang sedang ku tuliskan.

Aku sempat berhenti menulisnya, sehari, seminggu, sebulan, dua bulan, enam bulan, dan akhirnya lebih setahun berlalu, aku seolah meninggalkan ASP-ku. Ketika aku merasa bersalah karena telah membohongi diriku sendiri, membohongi orang-orang yang selalu menyemangatiku, ku bilang aku akan segera dan pasti menyelesaikannya, tapi kenyataanya?

Ketika aku masih sangat bersemangat menulisnya, ketika aku masih merasa bahwa ASP itu adalah bagian dari hidupku, napasku, nyawaku (mungkin kelihatannya sedikit berlebihan, tapi memang ‘sempat’ benar-benar demikian), aku berjanji akan menyelesaikannya dan baru akan berhenti ketika sudah mencapai panjang maksimal yang ku impikan. Aku ingin memecahkan rekor MURI. (Berlebihan lagi-kah? Ku rasa juga begitu. Mimpi!)

Aku putus asa. Aku mulai tak yakin dengan apa yang aku kerjakan. Omong kosong ketika aku mengharapkan bahwa suatu hari, ASP-ku akan berada dalam jajaran rak buku yang akan dihampiri orang lain kemudian membelinya. Hai, dunia... Katakan kepadaku, siapakah zaman sekarang ini yang MENYUKAI PUISI sebagai bahan bacaannya? TAK ADA!

Sesungguhnya aku malu. Aku malu pada banyak orang karena aku tak mampu memenuhi janjiku akan menyelesaikannya. Tapi aku tak sanggup lagi menguntai kata-kataku. Aku kehabisan kata. Sudah ku coba lagi untuk mengerjakannya dalam beberapa waktu terakhir ini setelah sempat meninggalkannya selama lebih setahun berlalu. Akan tetapi, aku tak berhasil menyentuh targetku untuk menjadikannya puisi terpanjang. Aku menyerah dan berhenti di kata yang ke 8.558. Aku bukan seorang penulis puisi yang baik.

Aku bahkan tak yakin lagi kalau ada yang akan membacanya kecuali aku, bahkan Stella, Eka, Anez, Tifany, Tika, Firman, Linda, Natasia, Tabita, Emma, Tista, Iche, Inri, Vina, pun aku tak cukup yakin mereka akan menyukai PUISI-ku. Karena pasti akan terlalu sulit untuk memahami maksud dibalik kata-kata ciptaan orang lain.
Aku menyerah.


Inilah beberapa penggal bait Alkisah Seorang Puteri yang ku tuliskan:
***

Saat hati mulai meraba dan mencari
Mengapa tak menemukan?
Saat hati ingin memiliki
Mengapa semua tampak tak mungkin?
Layaknya tertusuk kerikil tajam
Terdengar ocehan dari segala penjuru
Bersama balham tersembur
Itulah yang terasa

Sejenak puteri terdiam
Duduk manis seraya memikirkan dirinya
Kala ia berada di tengah perjalanannya
Ada kecintaan yang tengah menggebu menguasainya
Pada satu lelaki yang sempat menyapanya
Namun kini terasa jauh

Lalu apa yang harus dia lakukan?
Baikkah jika terus berharap?
Angin membawa berita bila ada bunga yang kini masih digenggam sang lelaki
Sekelebat marah seketika membungkus puteri
Kukunya tajam siap mencakar siapa pun yang mencoba dekat
Mutiara bening ikut berjatuhan bersamanya
“Kenapa dia membagi sapanya untukku sementara bunga itu belum dia lepas?!!”

Puteri mulai merasakan cinta ketika itu
Satu rasa di mana kau akan merasa layaknya punya sayap
Terbang semakin tinggi dan tinggi
Mengepak sayap sambil sesekali melihat ke bawah
Penuh pemadangan indah mempesonamu
Hamparan hijau menciptakan angin segar
Kicauan burung jadi satu nyanyian merdu bagimu
Lalu terkadang pula menghanyutkan
Ingin menenggelamkanmu lebih jauh
Lebih jauh dan jauh
Seakan dunia adalah istana pribadimu
Bersama sosok pangeran di sisimu membelaimu
Membisikimu serangkai kata penuh pesona romantis
Kau bebas bersandar di bahunya
Membiarkan segala khayalmu berkelana bebas
Terbang tinggi semakin tinggi
Jauh lebih jauh
Senyummu elok layaknya pelangi ketika itu
Matamu bercahaya
Namun, adakah itu semuanya bersedia terus melekat bersamamu?

Akan ada waktu di mana kau merasa terhempas jatuh
Jatuh bersama sayapmu yang patah
Di mana pemandangan indah itu berubah menjadi ranting-ranting tajam
Semuanya bersiap menghujammu
Bersama batu karang yang tak lagi indah
Semak duri yang menggigitimu
Tulangmu terasa remuk
Gerak bibirmu hanya akan mengundang awan hitam
Dan ketika itu hujan akan mengucur
Deras semakin deras
Bersama aliran merah mengental dari balik lukamu
Semuanya akan terasa pudar
Gelap semakin gelap
Jauh dan lebih jauh
Istanamu bukan lagi istana
Setiap sudutnya hanya akan menjadi tirai hitam bagimu
Membuka segala kenangan serasa madu yang berubah racun kini
Pekikanmu tak kan ada yang menyahuti
Dirimu terlunta
Lampu-lampu indah hanya akan menjadi lidah api yang membakarmu
Kulitmu rapuh
Kau hancur seketika
Ketika kau hendak coba berlari kau akan terjatuh
Terhempas masuk jauh ke dalam lubang nan gelap
Dalam dan sangat dalam
Sulit menemukan ujung
...
...
...

“Aku mencintaimu.”
“Untuk apa dia lontarkan kata terakhir itu bila memilih pergi?”
...
...
...
“Apakah gerangan salahku dibalik keputusan pahit itu?”
Dalam benak puteri lalu turun jawaban
“Aku bukan sosok sempurna yang paham sepenuhnya tentang ukiran hati.
Aku mencintainya dia mencintaiku.
Tapi cintaku tak cukup membuatnya merasa dicintai.
Ku tahu tak bermaksud dia menjadikanku ampas.
Hanya perlu baginya mengantik cinta yang sempurna.
Dan ada yang berhasil menariknya memandang mawar di kastil selatan.”
...
Inilah cerita cinta yang tak pernah berubah sepanjang masa
Selalu ada sakit di setiap kisah
Indahnya buaian seolah membawa raga ini berhasil menetap sejenak dalam wangian janah
Tapi ketika parang menyambar
Menggariskan luka yang mendalam
Semua berbalik
Rasanya seolah terlempar masuk ke dalam tempat api penyiksaan
Tak berujung sakitnya membakar tubuh
Dengan lidah baranya yang menakutkan
Menyapu kulitmu rata beringas
Menjilatimu
Walau air mata berusaha mengibasnya padam
Tak sanggup sama sekali
Abadi selamanya demikian

Lihat?
Lalu apa indahnya cinta yang dikata itu?
Berkasih-kasihan yang memilukan
Begitukah sebenarnya?
...
...
...

Cinta itu curang
Cinta itu ilusi palsu
Cinta itu nafsu bodoh
Cinta itu taring mematikan
Cinta itu alasan bohong
...

Selasa, 26 Juli 2011

Ku Pastikan Kamu Akan Mendapat Satu Pahala Lagi Setelah Membaca Ini

Saat ini yang ada dalam pikiranku adalah "Buanglah sampah pada tempatnya"

Aku tengah duduk di dalam satu angkutan umum bermarga Empat Tiga dengan aku memakai kaos pink-ku dan tas kecil andalanku. Aku kucel, berkeringat, muka kusut. SEMPURNA.
Di depan jalanan aku melihat mobil mewah dengan anggunnya merayapi jalanan. Dalam hati aku berharap "Andai aku punya mobil pribadi. Ck." Ku pikir, andai saja bapakku merelakan mobil Inova miliknya kulenggangkan di jalanan macet kota Medan ini, pasti aku tak perlu berkeringat menyedihkan seperti ini.


Di sepanjang jalanan, mataku liar memperhatikan. Empat Tiga-ku berhenti, lampu merah. Aku menarik napas panjang, ingin sekali rasanya mengutuki siapa si pembuat lampu merah itu. Aku melihat dari depan jalanan seseorang berjalan seolah bermain labirin melewati sisi kendaraan yang tengah berhenti. Dia seorang lelaki, ku kira usianya baru 25. Dia mengangkat kerupuk dagangannya setinggi dia bisa supaya terlihat oleh para pengendara mobil. Aku melirik ke plastik besar kerupuk dagangannya, kalau aku tak salah, mungkin itu baru laku terjual sebanyak delapan bungkus. Rp 2000.8 = ? Harga itu bahkan tak cukup untuk mulutku dalam sehari. Dia berkeringat, tapi tetap tersenyum.


Adik berambut panjang yang memakai rok kuning itu berjalan membawa koran "TRIBUN" dagangannya yang masih begitu banyak di tangan kecilnya, padahal hari sudah sangat sore. Kalau aku boleh menebak, usianya barangkali baru sepuluh tahun. Dia menggeliat di jalanan mencari uang sebagai loper koran. Harusnya dia bermain boneka atau belajar bersama teman seumurannya di lingkungan rumahnya. Harusnya begitu. Tapi dia harus bersemangat melangkah di jalanan yang bau karena polusi dengan menggendong koran-korannya. Yaa, dia bocah perempuan yang luar biasa.


Aku masih di Empat Tigaku, dan aku masih saja berpikiran, kapan aku akan berhenti menikmati bangku panjang 8-6 ini?
Ck.


Kembali aku melihat seorang lalaki kira-kira 40-an tahun. Oke, kita sebut saja dia bapak. Dia menawarkan dua minuman dingin (Aqua) di tengah jalanan, lagi-lagi aku mendapatinya ketika lampu merah tengah menyala. Sang bapak adalah seorang pedagang asongan. Sungguh, aku bingung. Kenapa dia bisa tersenyum seolah tak ada beban sama sekali padahal aku yakin dia berbeban berat. Dia menampakkan gigi-giginya mengiringi senyumnya yang memberi sinar di wjahnya yang penuh keringat. Sang bapak pasti sangat letih, kepanasan, dan bla bla, kenapa dia bisa tersenyum?


Aku?
Aku masih di Empat Tigaku.
Aku mengeluhkan diriku yang suka sekali mengeluhkan keadaan. Aku seringkali merasa bahwa dirikulah orang yang paling menyedihkan di lingkunganku, padahal? Bukan. Aku hanya kurang bersyukur.

Ku rasa, aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan, karena aku terlalu sombong. Sombong, dalam arti (kembali lagi) kurang bersyukur.


Hidup ini adalah tentang bagaimana kita menjalaninya dan menikmatinya. Uang Rp 100.000 tidak akan terasa mahal sama sekali ketika kau tidak menganggapnya berharga. Belajar bersyukur, belajar bersyukur, dan belajar bersyukur.
Dan semua akan indah dengan apa yang kau miliki.
Ketika ada yang terasa kurang, berusahalah dahulu sebelum mengeluhkannya.

BERDOA, BERUSAHA, dan BERSYUKUR.